RESSUME PPKMB DAY2

http://rzamellia.blogspot.com/2025/09/resume-materi-pkkmb-day-2.html                                                                                                                                       https://unusa.ac.id                                                                                                                                                 


Pemateri 1: Bapak Ainun Najib
Judul: Perguruan Tinggi Di Era Digital Dan Revolusi Industri



Pesan ini ingin mengingatkan adik-adik mahasiswa baru bahwa di tengah perkembangan teknologi AI yang pesat, yang paling penting adalah menjadi manusia yang utuh dengan kreativitas dan empati. AI bisa membantu kita dengan tugas-tugas rutin dan mengolah data, tapi tidak bisa menggantikan kemampuan kita untuk berkreasi dan merasakan.

Kreativitas adalah kekuatan kita untuk menciptakan hal-hal baru yang belum pernah ada sebelumnya, sesuatu yang di luar kemampuan AI. Empati atau rasa kemanusiaan adalah kemampuan kita untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain secara tulus, yang tidak bisa dipalsukan oleh mesin sekalipun.

Jadi, dalam menghadapi era AI, tetaplah jaga keaslian diri sebagai manusia: kembangkan imajinasi, ide-ide baru, dan selalu berhubungan dengan orang lain secara hangat dan penuh pengertian. Teknologi itu alat bantu, tapi sentuhan manusia itulah yang membuat segalanya bermakna dan hidup. Dengan begitu, AI akan menjadi sahabat dalam perjalanan, bukan pengganti jiwa manusia.



Pemateri 2:Dr. Nurul Ghufron, S.H., M.

Judul: Integritas Generasi Sebagai Karakter Utama Bangsa Indonesia



Sebagai mahasiswa Unusa, kita bukan sekadar mencari ilmu untuk dunia tapi untuk meraih ridha Allah SWT. Ilmu itu adalah amanah yang harus dijaga dengan kejujuran dan niat tulus supaya membawa berkah bagi diri, orang lain, dan bangsa. Ketika kita belajar dan berbuat dengan niat ibadah, insya Allah jauh dari godaan korupsi yang merusak masa depan.

Integritas bukan hanya soal aturan atau larangan, tapi panggilan jiwa menjadi pribadi yang jujur, amanah, dan berakhlak mulia dalam setiap langkah. Mulailah dari hal kecil seperti tepat waktu, menghormati orang lain, menjauhi plagiarisme, dan menjalankan tanggung jawab dengan sepenuh hati. Itulah cermin integritas yang nyata.

Korupsi itu menyakitkan dan menggerogoti bangsa, meruntuhkan keadilan dan kebersamaan. Kita bisa lihat bagaimana bangunan dan layanan menjadi rusak karena korupsi. Sebagai generasi Islam, kita wajib menolak hal tersebut karena hukum Islam mengajarkan keadilan dan melarang perbuatan zalim yang merugikan banyak orang.

Jadikan setiap profesi sebagai ladang ibada, melayani dengan hati dan menebar manfaat, bukan mencari keuntungan semu. Saat menjadi tenaga kesehatan, dosen, atau apapun, niatkan untuk menjadi seseorang yang membantu sesama dengan kejujuran dan kasih sayang.

Kampus ini adalah tempat kita diasah menjadi pemimpin masa depan yang tidak hanya pandai tapi juga kuat iman dan akhlaknya. Dengan integritas, kalian akan menjadi generasi yang dihormati dan diandalkan, bukan hanya di dunia tapi di akhirat kelak.

Mari kita pastikan nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab bukan hanya jargon tapi hidup dalam budaya kita sehari-hari. Perjalanan membangun bangsa ini dimulai dari kalian, generasi yang menjaga amanah dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Kalian adalah harapan Indonesia yang gemilang.

Dengan pendekatan ini, pesan integritas menjadi lebih personal, hangat, penuh spirit Islami, dan menginspirasi untuk menjadi pribadi lebih dari sekadar pintar: menjadi manusia yang berakhlak mulia dan berdedikasi untuk kemaslahatan umat.


Pemateri 3: KH. Maruf Khozin

Judul: Mahasiswa Unusa Sebagai Generasi Aswaja Nawiyah


Sejarah perpecahan umat Islam setelah wafatnya Rasulullah SAW memang panjang dan penuh dinamika. Namun, bila disampaikan dengan cara yang lebih manusiawi, pesan ini bisa menjadi pengingat dan pembelajaran yang mendalam, bukan sekadar fakta sejarah.

Bayangkan saat itu, umat Islam yang baru saja kehilangan sosok Nabi yang sangat dicintai, menghadapi masa penuh tantangan dan ketidakpastian. Perselisihan yang muncul bukan hanya soal politik, tapi juga menyentuh hati, keyakinan, dan cara menjalani agama. Ini seperti keluarga besar yang tanpa sadar mulai terpecah karena perbedaan pandangan, sementara rasa kebersamaan dan kasih sayang sebenarnya adalah yang paling utama.

Tengah perpecahan itu, ada pesan indah dari Nabi bahwa kelompok yang akan selamat adalah Aswaja yang menekankan jalan tengah, moderasi, dan saling menghormati. NU sendiri menanamkan nilai-nilai ini untuk menjaga ukhuwah, toleransi, dan kedamaian dalam kehidupan beragama.

Kita diajak untuk belajar dari sejarah bahwa perbedaan harus dikelola dengan hati dan bijaksana, bukan malah memecah belah. Sikap toleran dan moderat yang diajarkan NU mengajarkan kita untuk menjaga persatuan dengan saling menghargai keberagaman, layaknya sebuah keluarga yang tetap utuh walau berbeda karakter.

Jadi, pesan ini lebih dari sekadar sejarah; ia mengingatkan kita untuk terus merawat ikatan ukhuwah dan meneladani sikap bijak para pendahulu, menjadikan keberagaman lebih sebagai kekuatan daripada pemicu perpecahan.

Dengan cara ini, mahasiswa bisa merasakan pesan sejarah itu dengan lebih dekat, empatik, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka, sehingga mampu mengambil pelajaran yang berharga untuk menjaga persatuan dan kedamaian di masa depan.

Comments

Popular posts from this blog

Resume Global Engagement Nahdlatul Ulama University of Surabaya (Genus) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi membuka 5th Brave Program

RESUME MATERI PPKMB DAY 1